Apa itu sosiometri?
Sosiometri memetakan siapa memilih siapa di dalam kelas. Pelajari pengertiannya, apa yang bisa dan tidak bisa diungkapnya, serta kapan waktu yang tepat untuk melakukannya.

Setiap kelas punya peta yang tidak tertulis: siapa yang selalu dicari untuk kerja kelompok, siapa yang duduk berdua sejak kelas tujuh, siapa yang diam-diam tidak pernah dipilih. Guru biasanya merasakan peta itu, tetapi jarang bisa melihatnya utuh. Sosiometri adalah cara membuat peta itu terlihat.
Pengertian sosiometri
Sosiometri adalah teknik untuk mengukur hubungan sosial di dalam sebuah kelompok, berdasarkan pilihan para anggotanya sendiri. Murid diminta menyebut teman yang paling mereka inginkan untuk suatu kegiatan, misalnya belajar kelompok atau duduk sebangku. Dari jawaban seluruh kelas, guru mendapat gambaran siapa yang banyak dipilih, siapa yang saling memilih, dan siapa yang belum dipilih siapa pun.
Teknik ini dikembangkan oleh psikiater Jacob L. Moreno pada 1930-an dan kemudian menjadi salah satu teknik nontes yang paling dikenal dalam bimbingan dan konseling di sekolah. Di Indonesia, sosiometri diajarkan sebagai bagian dari asesmen nontes, bersama observasi, angket, dan wawancara.
Hasil sosiometri biasanya disajikan dalam tiga bentuk:
- Tabulasi atau matriks, yaitu tabel siapa memilih siapa beserta urutan pilihannya.
- Indeks, angka yang menunjukkan seberapa banyak seorang murid dipilih dibanding teman sekelasnya.
- Sosiogram, gambar berupa titik dan garis yang memperlihatkan jaringan pilihan di kelas.
Apa yang bisa diungkap sosiometri
Sosiometri menjawab pertanyaan yang sulit dijawab hanya dengan pengamatan:
- Siapa yang paling diterima oleh teman-temannya untuk kegiatan tertentu. Dalam istilah BK sering disebut bintang kelas.
- Siapa yang belum dipilih siapa pun. Murid seperti ini sering disebut terisolir. Mereka biasanya yang paling membutuhkan perhatian, dan justru paling mudah terlewat karena tidak membuat masalah.
- Pasangan yang saling memilih, yaitu dua murid yang memilih satu sama lain.
- Kelompok erat, tiga murid atau lebih yang semuanya saling memilih. Bentuk tiga orang sering disebut segitiga.
- Pola pemisahan, misalnya kelas yang terbelah menjadi kelompok laki-laki dan perempuan, atau kelompok yang tidak terhubung sama sekali dengan sisa kelas.
Informasi ini berguna untuk hal yang sangat praktis: membentuk kelompok belajar yang seimbang, mengatur tempat duduk, memilih ketua kelompok, dan menentukan murid mana yang perlu diajak bicara lebih dulu.
Apa yang tidak bisa diungkap sosiometri
Sosiometri adalah potret pada satu waktu, bukan diagnosis. Ada beberapa batas yang perlu diingat:
- Ia menunjukkan apa, bukan mengapa. Sosiogram bisa memperlihatkan bahwa seorang murid tidak dipilih, tetapi tidak menjelaskan sebabnya. Penyebabnya perlu digali lewat pengamatan dan percakapan.
- Hasilnya bergantung pada pertanyaan. Murid yang jarang dipilih untuk belajar kelompok bisa saja paling banyak dipilih untuk teman bermain. Karena itu pertanyaan sebaiknya jelas kegiatannya.
- Hubungan sosial berubah. Hasil di bulan Agustus bisa berbeda di bulan Februari. Sosiometri lebih bermakna kalau diulang.
- Ia bukan label. Menyebut seorang anak "terisolir" di depan orang lain bisa melukai. Hasil sosiometri adalah bahan kerja guru, bukan penilaian tentang anak.
Siapa yang memakai sosiometri
Secara tradisional sosiometri adalah instrumen guru BK. Permendikbud Nomor 111 Tahun 2014 menyebutkan layanan BK, yang mencakup bidang pribadi, sosial, belajar, dan karier, dijalankan berdasarkan asesmen kebutuhan (Permendikbud 111/2014).
Kebutuhan untuk mengenali relasi murid kini juga dirasakan guru lain. Permendikdasmen Nomor 11 Tahun 2025 memperkenalkan peran guru wali yang mendampingi perkembangan murid, dan meminta guru wali bekerja sama dengan wali kelas dan guru BK (Permendikdasmen 11/2025). Wali kelas dan guru wali bisa memakai hasil sosiometri sebagai bahan percakapan dengan guru BK, misalnya untuk menentukan murid mana yang perlu dirujuk.
Kapan waktu yang tepat
Sosiometri hanya bermakna kalau murid sudah cukup saling mengenal. Di kelas baru, tunggu beberapa minggu setelah tahun ajaran dimulai, sampai murid tahu nama teman-temannya dan pernah bekerja bersama. Melakukannya di minggu pertama hanya akan memperlihatkan siapa yang sudah saling kenal dari sekolah sebelumnya.
Beberapa momen yang cocok:
- Awal semester, setelah 4 sampai 6 minggu, untuk membentuk kelompok belajar dan menemukan murid yang perlu didampingi.
- Sebelum menyusun ulang tempat duduk atau kelompok proyek.
- Setelah ada perubahan besar, misalnya murid pindahan atau konflik di kelas.
- Akhir semester, sebagai pembanding hasil awal.
Langkah singkat melakukan sosiometri
- Tentukan tujuan dan pertanyaannya. Misalnya: "Dengan siapa kamu paling senang belajar kelompok?" Satu tujuan, satu pertanyaan.
- Tentukan jumlah pilihan. Umumnya tiga teman, ditulis berurutan dari yang paling diinginkan.
- Jelaskan kepada murid bahwa tidak ada jawaban benar atau salah dan jawabannya dirahasiakan.
- Kumpulkan jawaban seluruh kelas. Usahakan semua murid mengisi.
- Olah hasilnya menjadi matriks, indeks, dan sosiogram.
- Tafsirkan dan tindak lanjuti, misalnya dengan konseling individual untuk murid yang belum dipilih atau penataan ulang kelompok.
Langkah kedua sampai kelima dibahas lebih rinci di artikel lain: contoh angket sosiometri, cara membaca sosiogram, rumus indeks pemilihan, dan tindak lanjut hasil sosiometri.
Ringkasnya
Sosiometri membuat peta pertemanan kelas terlihat, dari pilihan murid sendiri. Ia paling berguna untuk menemukan murid yang belum dipilih siapa pun dan untuk membentuk kelompok dengan lebih adil. Lakukan setelah murid saling kenal, jaga kerahasiaan jawabannya, dan perlakukan hasilnya sebagai titik awal percakapan, bukan kesimpulan akhir.